Jika Anda seseorang yang familiar dengan dunia IT, pasti sudah tidak asing dengan istilah serangan DDoS. Jenis serangan ini bukalah hal yang baru di dunia maya, seperti yang dikutip dari tempo.co serangan pertama kali DDoS muncul pada tahun 1999 yang membuat beberapa situs di internet, yang baru memasuki periode awal perkembangan, mengalami downtime untuk sementara waktu. Satu tahun kemudian di tahun 2000, beberapa situs besar menjadi target serangan DDoS, seperti Amazon, CNN, Yahoo!, dan eBay tidak terlepas dari serangan ini. Mengakibatkan, situs-situs besar tersebut mengalami downtime dalam waktu yang cukup lama.
Selama triwulan kedua tahun ini, serangan serangan DDoS mengalami peningkatan tajam. Dibandingkan tahun sebelumnya, rata-rata durasi serangan DDoS naik 100 kali lipat, mencapai 3.000 menit. Pangsa serangan cerdas hampir memecahkan rekor selama empat tahun, terhitung hampir 50 persen dari total. Para ahli juga memperkirakan peningkatan aktivitas DDoS secara keseluruhan, terutama dengan runtuhnya cryptocurrency (mata uang kripto) baru-baru ini. Temuan ini dan lainnya adalah bagian dari laporan DDoS triwulanan yang dikeluarkan oleh Kaspersky.
Jika melihat dari kasus serangan DDoS yang meningkat, penting bagi kita untuk lebih memahami pengetahuan dasar mengenai serangan tersebut. Harapannya, Anda bisa mencegah dan mengatasi serangan ini agar tidak merugikan perusahaan Anda. Lalu apa sebenarnya DDoS dan bagaimana cara menghindarinya? Yuk simak pembahasannya!
Pengertian Distributed Denial of Service (DDoS)
Distributed Denial of Service atau yang disingkat dengan DDoS adalah salah satu jenis serangan siber yang menargetkan website, layanan online, maupun jaringan dengan cara membanjiri dengan fake traffic yang sangat banyak dengan begitu sebuah website tidak bisa mengakomodasi traffic yang masuk yang berujung lumpuhnya sebuah server. Ada beberapa ciri-ciri sebuah server yang terkena serangan DDoS, antara lain:
- Peningkatan traffic secara tiba-tiba pada bandwidth yang berlangsung secara terus-menerus, baik download maupun upload. Jika sasaran serangan DDoS adalah pengguna VPS (Virtual Private Server), maka penggunaan bandwidth pada VPS tersebut bisa mencapai limit hingga VPS tidak lagi bisa diakses.
- Tidak wajarnya peningkatan traffic dan adanya keseragaman pengakses seperti alamat IP atau pengunjung memiliki profil atau perilaku yang sama, seperti lokasi, tipe perangkat, browser yang digunakan, dan lain sebagainya.
- Tingginya load pada CPU namun tidak ada aktivitas yang sedang berjalan yang berujung CPU menjadi overload dan kinerja menurun sehingga website mengalami downtime.
- Melambatnya jaringan internet, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengaksesnya atau bahkan tidak bisa diakses sama sekali.
- Terdapat spam email dalam jumlah banyak yang datang dalam waktu yang hampir bersamaan.
Jenis-jenis Distributed Denial of Service (DDoS)
Ada beberapa jenis serangan DDoS yang dibedakan berdasarkan cara serangan tersebut dilakukan antara lain:
- Serangan Volumetrik
Dengan memanfaatkan limit dari bandwidth, jenis serangan ini akan membuat kemacetan traffic secara konsisten dengan jumlah yang sangat besar. Sehingga, bandwidth akan megalami overload dalam menghadapi traffic yang masuk dan berujung downtime. Serangan ini diukur dalam bits per second (bps), dan merupakan serangan yang paling banyak dilakukan dalam serangan tersebut. Contoh Serangan Volumetrik antara lain: UDP (User Data Protocol) Flood, DNS Flood, ICMP (Ping) Flood.
- Serangan Protokol
Serangan ini protokol dilakukan dengan menghabiskan sumber daya server berbeda dengan serangan volumetrik yang menghabiskan bandwidth pengguna website. Dengan Cara membanjiri situs web dan sumber daya server dengan membuat permintaan protokol palsu untuk menggunakan sumber daya yang tersedia. Serangan ini diukur dalam packets per second (pps). Contoh Serangan Protokol antara lain: Smurf DDoS, SYN Flood, Ping of Death.
- Serangan Layer Aplikasi
Dengan memanfaatkan kerentanan ‘layer’ di dalam aplikasi seperti Apache, Windows, dan OpenBSD untuk menyerang. Serangan ini bertujuan untuk menurunkan server dengan cara membuat sejumlah permintaan yang awalnya tampak ‘normal’ dengan meniru perilaku traffic pengguna. Karena serangan layer aplikasi hanya menargetkan fitur tertentu dari suatu aplikasi atau situs web, maka seringkali serangan ini luput dari perhatian. Kekuatan dari serangan ini diukur dalam requests per second (rps). Contoh serangan layer aplikasi antara lain: Slowloris, Advanced Persistent DoS (APDoS), Zero-day DDoS Attacks.
Cara mencegah serangan DDoS.
Dampak dari serangan DDoS cukup berbahaya. Jika website, jaringan atau sistem yang biasa Anda gunakan dalam berbisnis mengalami downtime, dapat dibayangakan akan ada banyak kerugian dan masalah yang timbul karena serangan tersebut. Sebelum hal tersebut terjadi, ada beberapa cara untuk mencegah serangan DDoS, antara lain:
- Terapkan sistem keamanan berlapis di server, jaringan maupun aplikasi. Upayakan untuk meminimalisir adanya celah keamanan.
- Anda dapat menggunakan beberapa tool untuk mencegah serangan DDoS, seperti Cloudflare, Security Event Manager, Imperva, dll.
- Lakukan monitoring lalu lintas sistem secara rutin dan berkala. Pastikan tidak ada peningkatan traffic yang terlalu signifikan dan terkesan mencurigakan. Hal ini bisa mengidentifikasi gejala serangan DDoS lebih dini.
- Tingkatkan kapasitas bandwidth. Jadi ketika terjadi lonjakan traffic yang mendadak, website masih bisa bertahan hingga Anda mendapati gejalanya. Metode ini dimaksudkan untuk memberi tambahan waktu mengatasi serangan DDoS.
Eranyacloud sebagai penyedia full service cloud provider di Indonesia menyediakan layanan cloud infrastructure yang telah di lengkapi oleh Anti DDoS sehingga dapat memberikan keamanan untuk data perusahaan Anda. Selain itu layanan kami telah bersertifikasi ISO 9001 dan ISO 27001. Layanan kami memiliki Service Level Agreement (SLA) 99.9% dengan support 24×7. Hubungi kami (disini) jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai layanan Cloud Computing dari Eranyacloud atau hubungi kami lewat Whatsapp (disini)


